Monday, October 12, 2015

Berkat Internet, Orang-orang Ini Jadi Miliarder Dunia

Liputan6.com, Jakarta - Kini mendapatkan penghasilan dari internet bukanlah hal yang tidak mungkin. Setiap hari ada saja orang yang menjadi jutawan dari dunia maya. Pada awalnya mereka hanya iseng dan mencari informasi benarkah internet dapat menghasilkan uang. Hingga akhirnya mereka mulai mendapatkan inspirasi dan mencoba untuk menjalankan ide tersebut.
Proses menadapatkan uang pada dasarnya cukup sederhana: temukanlah sebuah masalah, lalu tawarkanlah solusinya, dan Anda berpotensi mendapatkan imbalan dari solusi yang Anda berikan.
Berikut ini adalah 6 pengusaha dunia maya yang cukup terkenal berikut kekayaannya, dilansir dari incomediary, Minggu 11 Oktober 2015.

Larry Page



Website : Google
Diluncurkan : 1998
Kekayaan : US$ 34 miliar atau sekitar Rp 461 triliun (kurs Rp 13.561 per Dolar AS)

Sergey Brin


Website : Google
Diluncurkan : 1998
Kekayaan : US$ 33,3 miliar atau sekitar Rp 451 triliun


Jeff Bezos


Website : Amazon
Diluncurkan : 1994
Kekayaan : US$ 47,9 miliar atau sekitar Rp 649 triliun


Elon Musk


Website : Paypal
Diluncurkan : 1998
Kekayaan : US$ 12,5 miliar atau sekitar Rp 169 triliun

Mark Zuckerberg


Website : Facebook
Diluncurkan : 2004
Kekayaan : US$ 40,9 miliar atau sekitar Rp 554 triliun


Blake Ross


Website : Mozzila
Diluncurkan :1998
Kekayaan : US$ 150 juta atau sekitar Rp 2 triliun

(Ilh/Zul)*

Thursday, April 30, 2015

Rumah UKM "rejeki 19".


Rumah UKM "rejeki 19" mengkhususkan diri membantu perorangan yang ingin berwirausaha. Kami bekerja sama dengan Koperasi Simpan Pinjam "Bersama Mula Jaya" dalam hal penyediaan dana dan bekerja sama dengan ASA Consulting dalam hal penyediaan pelatihan dan jasa manajemen.

Monday, March 30, 2015

Sunday, March 1, 2015

Djarot Jadikan Jakarta Sebagai Kota Industri Kreatif

WWW.BERITA JAKARTA.COM
REPORTER : ERNA MARTIYANTI | EDITOR : AGUSTIAN ANAS | RABU, 25 FEBRUARI 2015 10:47 WIB | 
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidajat berencana menjadikan Jakarta sebagai kota industri kreatif. Ke depan, semua industri besar akan digeser ke Banten agar industri kreatif yang ada di ibu kota bisa lebih berkembang.
" Ke depan industri berat di Jakarta itu akan kita geser ke Banten jadi di Jakarta nanti lebih kepada industri kreatif"
"Ke depan industri berat di Jakarta itu akan kita geser ke Banten. Jadi, di Jakarta nanti lebih kepada industri kreatif. Menumbuhkan usaha kecil dan menengah, dan ini yang perlu kita petakan industri kreatif apa yang nantinya betul betul mampu ditonjolkan di Jakarta," kata Djarot, di Balaikota, Rabu (25/2).
Pengembangan industri kreatif ini dipilih lantaran, Jakarta tidak lagi memiliki lahan pertanian yang luas untuk dikembangkan. Mulai saat ini, pihaknya akan mencari jenis industri kreatif yang mampu bersaing menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan ASEAN Free Trade Area (AFTA). Tujuan lainnya adalah persiapan Jakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games 2018 mendatang. Kamar Dagang Indonesia (Kadin) DKI Jakarta pun diminta untuk membuat road map terhadap rencana ini. Dengan demikian, bisa diketahui industri kreatif apa yang bisa dikembangkan.
"Kadin akan bikin road map nya. Saya minta jangan terlalu panjang dan jauh. Sampai 2018 saja itu apa yang fokus dan detail," ujarnya.
Diakui Djarot, pihaknya pun tetap menjalin kerja sama dengan daerah sekitar, khususnya Banten. Karena beberapa industri besar akan dipindahkan ke Banten. Rencana itu pun telah mendapat persetujuan dari pemerintah daerah setempat. "Kalau saya ketemu sama Pak Rano (Plt Gubernur Banten) beliau seneng banget," ucapnya.
Menurut Djarot, Banten sengaja dipilih untuk relokasi industri besar lantaran lokasinya yang cocok. Hal itu juga mendukung tidak adanya alih fungsi lahan hijau menjadi pabrik. Karena daerah Jawa Barat lainnya yang berada di sekitar Jakarta, masih diperlukan untuk penghijauan.
"Jangan sampai alih fungsi lahan subur berubah jadi pusat industri. Sekarang sudah banyak. Kawasan industri itu harusnya diletakkan di kawasan yang relatif tidak begitu subur. Termasuk juga ini akan mendorong ekonomi masyarakat Banten dan dia bisa jadi urban band," ujarnya.

Friday, February 13, 2015

Pemikir dan Pekerja.

Pemikir lebih suka berpikir, Pekerja lebih suka bekerja.
Pemikir lebih suka mengerjakan hal – hal yang baru, yang belum pernah dikerjakan, Pekerja lebih suka mengerjakan hal – hal yang biasa dikerjakan.
Pemikir berpikir dulu baru bekerja, Pekerja bekerja dulu baru berpikir.
Pemikir berpikir keras, Pekerja bekerja keras.
Alkisah, Pekerja bekerja keras mengumpulkan Rupiah, Rp 100.000,-  ditukar menjadi USD 40,- (saat 1 USD = Rp 2.500,-); tiba – tiba datang pemikir, dan Rp 100.000,- menjadi hanya USD 8,- (saat 1 USD = 12.500,-). Pekerja kehilangan 80 % hasil kerja kerasnya. Jangan membenci Pemikir, tetapi belajarlah berpikir.
Andai kata kebiasaan berpikir dan bekerja jumlahnya 10, termasuk yang manakah Anda?
Pemikir 1 Pekerja 9, Pemikir 2 Pekerja 8, Pemikir 3 Pekerja 7, dan seterusnya Pemikir 9 Pekerja 1.
Ada Pemikir yang lebih banyak berpikir dan kemudian mengarahkan Pekerja untuk bekerja baginya.
Apakah ada Pekerja yang lebih banyak bekerja dan kemudian minta Pemikir untuk berpikir baginya?

Ada Pemikir yang suka mengatur Pekerja. Ada juga Pekerja yang suka mengatur Pemikir. Mana yang hasilnya lebih baik? Celakanya kalau semua merasa dirinya benar dan yang lain dianggap salah. Jangan kaku, belajarlah berdiskusi.

Thursday, February 5, 2015

Data Pra Pendidikan dan Pelatihan “Persiapan Purna Bakti”.

--asaconsulting---asaconsulting---asaconsulting---asaconsulting--

Nama:
Tempat / tanggal Lahir:
Pendidikan Terakhir:

Alamat:

Nomor HP:
Alamat e-mail:
Nama Perusahaan:
Bidang Usaha:
Jabatan Terakhir:

Mata Pelajaran / Kuliah yang paling disenangi waktu sekolah / kuliah:
1.
2.

Mata Pelajaran / Kuliah yang paling dikuasai waktu sekolah / kuliah:
1.
2.

Pekerjaan yang paling Anda senangi selama bekerja:
1.
2.

Pekerjaan yang paling Anda kuasai selama bekerja:
1.
2.

Apa Hobby Anda:

Pekerjaan apa yang sebenarnya Anda inginkan, tetapi sampai sekarang Anda belum mempunyai kesempatan untuk melaksanakannya?


Menurut Anda, hambatan apa yang akan dihadapi jika Anda berwirausaha? Jelaskan :



Bantuan apa saja yang Anda harapkan / butuhkan agar Anda dapat berhasil dalam berwirausaha? Jelaskan:





Kirimkan data di atas ke alamat e-mail:
rejekikami@gmail.com
asa19consulting@gmail.com
dan kami akan memberikan tanggapan.

Monday, February 2, 2015

Apa yang Sebenarnya Anda Jual / Berikan?

Untuk mendapatkan sesuatu, kita harus mengorbankan atau memberikan sesuatu yang lain. Jadi kita tukar, tukar menukar atau bisa juga dianggap jual beli. Mau mendapatkan suatu barang atau jasa, kita memberikan uang. Kita membeli barang, kita harus membayar. Naik kendaraan umum (jasa, termasuk pesawat), kita juga harus membayar. Barang dan jasa kita tukar dengan uang.
Apa yang kita tukar untuk mendapatkan uang? Ada beberapa cara untuk mendapatkan uang: bekerja, berwirausaha atau berinvestasi. Untuk berinvestasi, kita perlu modal yang cukup besar, kita anggap saja kita tukar modal uang dengan uang. Yang membutuhkan modal uang yang lebih sedikit adalah bekerja dan berwirausaha.
Dalam bekerja dan berwirausaha, untuk mendapatkan uang kita terutama memberikan kepandaian, tenaga dan waktu. Jadi kita tukar kepandaian, tenaga dan waktu dengan uang. Kita memberikan kepandaian, kepandaian kita tidak berkurang, bahkan semakin pandai. Kita memberikan tenaga, setelah beristirahat, tenaga kita pulih kembali. Hanya waktu, yang setelah kita berikan, waktu berlalu dan tidak kembali. Tiba – tiba kita sudah sampai pada usia pensiun, dan tidak bisa kembali.
Kalau waktu tidak dapat kembali dan baik bekerja maupun berwirausaha sama – sama mempergunakan waktu, lantas apa bedanya? Dalam bekerja, pada umumnya (kecuali posisi tertentu) waktu kita diatur oleh orang lain, oleh atasan dan perusahaan, minimal 40 jam seminggu. Istilahnya purnawaktu (full-timer), ada istilah loyal kepada perusahaan. Ada istilah korupsi waktu. Dalam berwirausaha, kita sendiri yang lebih banyak mengatur waktu kita. Kita memanfaatkan waktu sesuai dengan kemampuan pengelolaan kita.
Bagaimana kalau belum siap, belum dapat berwirausaha padahal sudah butuh uang? Bekerja sambil mempersiapkan diri secara benar untuk berwirausaha. Jangan hanya bekerja saja sampai pensiun. Untuk dapat berwirausaha tidak hanya butuh modal uang.
Kita dapat mulai belajar berwirausaha pada saat kita masih bekerja. Setahap demi setahap, mulai dengan lingkup dan skala yang kecil. Mungkin kurang optimal, tetapi lebih baik daripada terlambat. Adalah lebih baik kita mempersiapkan diri secara matang sebelum terjun langsung berwirausaha, agar kita dapat memperkecil resikonya.

Mari belajar berwirausaha. Mari belajar bekerja sama. Mari bermitra. Sukses selalu!
Rukan Mutiara Taman Palem blok C6 / 18,
Jakarta 11730, telp. 5435 8060, 6850 7819.
e-mail : rejekikami@gmail.com
asa19consulting@gmail.com


Monday, January 26, 2015

Periode Kritis atau Periode Sensitif.

Periode Kritis atau lebih mudah dimengerti sebagai Periode Sensitif dapat dikatakan sebagai saat yang paling optimal bagi seseorang untuk mempelajari sesuatu. Tidak sebelumnya karena ia belum siap, dan juga tidak jauh sesudahnya karena ia sudah terlambat. Kami kutip pengertian Periode Kritis yang kami cari melalui Google:
“A critical period really is a specific time during which an organism has to experience stimuli in order to progress through developmental stages properly. Have you ever taken a language class in school? Did you find it difficult? One reason is that we, as humans, have a critical period for language development. During that time, we are much more capable of learning a new language than at other, later times -- it just comes much easier during that time. In particular, if children don't start speaking around a certain time, it can become even more difficult for them to pick up their native language. Thus, there are critical periods for learning language. A related term is Sensitive Period.”
Belajar atau mulai berwirausaha juga ada periode sensitifnya. Pada usia berapa sebaiknya seseorang belajar atau mulai berwirausaha? Apakah setelah usia 50 tahun, mendekati pensiun? Atau bahkan mulai setelah dipensiunkan pada usia 60 tahun?
Apakah belajar berwirausaha harus berhenti bekerja? Apakah harus mulai dengan modal yang cukup besar?
Kita dapat mulai belajar berwirausaha pada saat kita masih bekerja. Setahap demi setahap, mulai dengan lingkup dan skala yang kecil. Mungkin kurang optimal, tetapi lebih baik daripada terlambat. Adalah lebih baik kita mempersiapkan diri secara matang sebelum terjun langsung berwirausaha, agar kita dapat memperkecil resikonya.
Mari belajar berwirausaha. Mari belajar bekerja sama. Mari bermitra. Sukses selalu!
Rukan Mutiara Taman Palem blok C6 / 18,
Jakarta 11730, telp. 5435 8060, 6850 7819.
e-mail : rejekikami@gmail.com

asa19consulting@gmail.com

Sunday, January 18, 2015

Tips – tips memulai Usaha dengan modal terbatas.


  • Analisis dalam bidang apa kekuatan Anda? Apakah Anda mempunyai kekuatan dalam bidang Keuangan, bidang Produksi, bidang Pemasaran, atau bidang SDM?
  • Agar Usaha Anda dapat berjalan dengan baik, dalam bidang apa Anda memerlukan dukungan? Carilah dukungan dalam bidang yang Anda kurang mempunyai kekuatan. Kalau Anda mempunyai kekuatan dalam bidang Pemasaran, Anda perlu dukungan dalam bidang lain.
  • Analisis cara mendapatkan dukungan yang sesuai untuk Anda: bergabung (joint), kerjasama, outsource atau mencari karyawan?
  • Mulailah dengan lingkup (scope) dan skala kecil. Lingkup dan skala kecil memperkecil resiko dan memperbesar kemungkinan berhasil karena Anda lebih mudah memusatkan kekuatan dan perhatian dalam bidang baru ini.
  • START YOUR ENGINE, GO, EVALUATE and REVISE. Mulai ..... dan mulailah sekarang.

Friday, January 16, 2015

Memperkecil Resiko dan Ketergantungan.

Pada umumnya orang lebih suka bekerja daripada berwirausaha. Bekerja dianggap lebih aman karena memberikan penghasilan yang tetap. Bekerja dianggap tidak ada resiko kerugian. Berusaha dianggap dapat mengalami kerugian jika usahanya gagal. Benarkah asumsi – asumsi ini?
Seorang karyawan mempunyai resiko di PHK. Karena itu ada undang - undang yang mengatur mengenai PHK ini. Kalau tidak mempunyai keahlian khusus yang sangat dibutuhkan, kebanyakan pekerja kariernya tergantung apakah ia mendapat atasan dan perusahaan yang baik atau tidak. Memang ia dapat mencari tempat kerja yang lain, tetapi resiko dan ketergantungan itu tetap ada.
Jadi, bekerja atau berwirausaha, masing – masing mempunyai resiko dan ketergantungan sendiri – sendiri. Bekerja tergantung pada atasan dan perusahaan, berwirausaha tergantung pada pelanggan. Semakin banyak pelanggan, ketergantungan semakin kecil.
Resiko bekerja adalah di PHK. Resiko berwirausaha adalah gagal. Kalau dikelola dengan baik, semakin banyak pelanggan, resiko dapat menjadi semakin kecil. Resiko berwirausaha dapat dibagi dengan mencari mitra kerja yang sesuai. Jika kita tidak menguasai suatu bidang tertentu, kita dapat mencari mitra kerja yang mempunyai keahlian di bidang tersebut. Mencari mitra kerja bukan mencari karyawan. Kalau mencari karyawan, resiko tidak dibagi dengan karyawan tersebut. Mitra kerja juga tidak harus tetap, dapat bermitra untuk suatu periode tertentu. Hanya bidang – bidang tertentu, pekerjaan – pekerjaan atau fungsi – fungsi tertentu, kita limpahkan kepada mitra kita.

Mari belajar berwirausaha. Mari belajar bekerja sama. Mari bermitra. Sukses selalu!

Thursday, January 15, 2015

Mengapa Berwirausaha itu Susah?

Mengapa berwirausaha itu susah? Sebab kita ingin mengerjakan semuanya sendiri.
Sebuah pabrik mobil, tidak membuat semua bagian mobil sendiri. Dia bekerja sama dengan banyak pemasok (supplier). Mobil butuh ban, ada pemasok khusus ban. Mobil butuh rem, ada pemasoknya.
Begitu pula dengan industri properti. Ada pengembang, ada kontraktor utama, ada bermacam – macam subkontraktor, ada pemasok material, ada pemasok tukang.
Kalau perusahaan besar tidak mengerjakan semuanya sendiri, mengapa yang baru mau mulai harus mengerjakan semuanya sendiri?
Pada jaman sekarang banyak tugas dan aktivitas yang “didelegasikan”, diunduk (outsource) kepada pihak lain.
Ada yang mendelegasikan posisi dan tugas tertentu, misalnya tenaga marketing, teknisi, tenaga administrasi, dll.
Ada juga yang mendelegasikan fungsi atau bagian tertentu, tenaga dan juga sistim / manajemennya.

Mari belajar berwirausaha. Mari belajar bekerja sama. Mari bermitra. Sukses selalu!

Saturday, January 10, 2015

Hakekat Wirausaha.

Hakekat dari Wirausaha adalah menghubungkan kebutuhan Pelanggan dengan Kemampuan kita.
Wirausaha bukan hanya sekedar berdagang atau berjualan.
Menawarkan sesuatu kepada orang yang tidak membutuhkannya, seringkali hasilnya sia - sia.
Berusaha melakukan sesuatu di luar kemampuan kita memerlukan pengorbanan yang lebih besar.
Memenuhi kebutuhan Pelanggan yang sesuai dengan kemampuan kita memberikan kepuasan bagi kedua belah pihak.

Friday, January 9, 2015

Ingin memulai usaha sendiri?

Ingin punya usaha sendiri?
Bergabunglah bersama kami:
Michelle Business and Management Center.
Hanya dengan Rp 1.000.000,- / bulan Anda akan mendapatkan :
Gratis tempat kerja untuk 1 orang (termasuk meja dan kursi),
Gratis sambungan internet,
Gratis pelayanan rekrutmen,
Gratis pelayanan pelatihan,
Gratis pendampingan usaha,
Gratis konsultasi bisnis,
Gratis konsultasi manajemen,
Gratis sistim akuntansi,
Gratis pelayanan promosi (melalui blogspot, instagram, WA dan BBM).
Hubungi kami: 
Rukan Mutiara Taman Palem blok C6 / 18,
Jakarta 11730, telpon 5435 8060, 0878 8023 1009

e-mail : rejekikami@gmail.com.